MENJINAKKAN
DUNIA DIGITAL, MEMANUSIAWIKAN MANUSIA
I.
Internet sebagai conditio humana
komunikasi melalui internet bukan lagi sekunder bagi
banyak orang, melainkan telah menjadi komunikasi primer. Semua perkembangan ini
membuat internet telah menjadi -- dengan meminjam ungkapan filsuf Jerman,
Martin Heidegger -- cara mengada manusia itu sendiri (mode of being). Sebagai
manusia kita tidak lagi menggunakan internet, melainkan telah menginternet:
kita ada dalam dan melalui internet; ia menjadi kondisi kemanusiaan (conditio
humana) kita. Internet itu bukan lagi perangkat yang terpisah dari keberadaan
kita, melainkan ia telah menjadi instrumen yang memungkinkan kita mengada
sebagai manusia. Tanpa internet kita (merasa) tidak ada, tidak eksis, artinya,
seakan-akan lumpuh, kurang manusiawi.
Fenomena dunia digital ini tentu saja memberikan
banyak sumbangan positif bagi peradaban umat manusia. Karakter yang menonjol
dari kehidupan yang serba digital ini adalah bahwa secara teknis hidup manusia
menjadi semakin mudah. banyak kegiatan yang dapat kita lakukan atau kita
selesaikan dengan sangat mudah karena kita cukup menggerakkan jari-jari tangan
untuk menekan keypad perangkat elektronik kita. Namun, sebagaimana dalam
berbagai bidang kehidupan lainnya, kemudahan tidak selalu bermakna positif dan
tidak selalu menghasilkan sesuatu yang positif. Kemudahan teknologis hanya
menjelaskan proses atau prosedur sederhana atau gampang dalam melakukan
sesuatu. Apa yang dilakukan dan terutama apa dampak kemudahan itu, justru
sering tidak positif. Dari refleksi filosofis atas fenomena dunia digital ini sudah
seharusnya memang tidak hanya melihat dampak positif yang dihasilkannya,
melainkan juga dampak negatif yang terkandung di dalamnya atau yang
diimplikasikannya.
II.
Sejumlah Pertanyaan
Refleksi kritis atas fenomena intensifikasi
penggunaan perangkat digital ini sangat penting karena dunia digital telah
sedemikian jauh mempengaruhi bahkan menentukan kehidupan kita. Kalau kita
memperhatikan bagaimana hubungan internet dan manusia dewasa ini, maka tidak
berlebihan mengatakan bahwa bukan kita lagi yang menggunakan dan mengarahkan
internet, melainkan internet yang mengarahkan dan menentukan kita. Kita
seakanakan terserap olehnya. Kita menghabiskan waktu berjam-jam di dalamnya.
Internet mengkonsumsi kita, dan bukan sebaliknya. Mengapa demikian? Karena kita
menyesuaikan diri ke padanya, kepada framework-nya. Lihatlah perubahan gaya
hidup yang terjadi berkat facebook, misalnya.
Bayangkanlah berapa banyak waktu yang dihabiskan
oleh ratusan juta pemilik account facebook untuk chatting atau sekadar surfing
di sana. Berapa banyak informasi, yang berguna maupun tidak berguna (hoax)
bersileweran di sana, dan bagaimana semua itu mempengaruhi banyak orang. Banyak
kejadian fenomenal di dunia terjadi karena dengan dukungan internet. Kita
tergantung kepadanya. Kita bahkan bisa mengatakan bahwa internet telah menjadi
subjek universal yang mempengaruhi umat manusia. Dalam dunia digital dewasa
ini, internet itu bukan lagi sekadar sebuah konstelasi teknologis yang
terbentuk dari jaringan antarkomputer, melainkan telah menjadi subjek maha
raksasa yang mempengaruhi dan menentukan (gaya) hidup kita dengan cara yang
sangat mendasar.
Sebagai
Imago Dei (Citra Allah), yang diperlengkapi dengan akal budi, manusia
seharusnya mampu mengarahkan dan menentukan perkembangan dunia digital; bukan
dunia digital dengan logika perkembangannya yang non-manusiawi itu yang
menentukan arah perkembangan umat manusia, melainkan sebaliknya. Hanya kalau
manusia yang secara aktif menentukan arah dan dinamika perkembangan teknologis
maka teknologi itu dapat membuat manusia lebih manusiawi.
III.
Internet dan dehumanisasi
Teknologi itu tidak pernah netral. Teknologi
mengubah lingkungan dan cara hidup kita, dan dengan demikian mengubah kita
juga. Di atas kita telah melihat sejumlah contoh perubahan yang terjadi karena
internet. Artinya, secara langsung atau tidak langsung, teknologi mengubah
kita. Itu membuktikan bahwa dia tidak netral. Martin Heidegger, filsuf Jerman
yang merefleksikan hakikat teknik dengan sangat mendalam dan menyebutnya
sebagai puncak metafisika, tampaknya benar ketika dia mengkritik mitos keliru mengenai
kebebasan dan otonomi kita di hadapan teknologi modern.
Perkembangan teknologi dalam dunia digital sekarang
sesungguhnya telah merampas atau mendangkalkan kemanusiaan kita. Namun, perlu
segera ditekankan, ini bukan sebuah sikap antipati terhadap teknologi. Tidak
setiap bentuk teknologi dengan sendirinya membuat kemanusiaan kita menjadi
rendah. Banyak kemajuan teknologi yang justru positif dan mengembangkan
kemanusiaan kita. Teknologi medis, pertanian atau transportasi, misalnya.
Namun, perkembangan teknologi dalam dunia digital sekarang menimbulkan
kekuatiran bagi banyak pihak karena dia justru dalam banyak hal telah membuat
kita menjadi kurang manusiawi, atau kemanusiaan kita menjadi rendah. Teknologi
yang seharusnya memanusiawikan itu justru kenyataannya merendahkan kemanusiaan.
Dekadensi kemanusiaan ini ini terjadi baik pada level ontologis, kognitif,
afektif dan motorik.
Digitalisasi adalah sekaligus denaturalisasi
manusia, proses ketercerabutan kita dari alam. Kita semakin sedikit bersentuhan
dengan alam empiris-fisik. Sebagai denaturalisasi, digitalisasi membuat kita
semakin jarang dan sulit meng-alami sesuatu. Artinya, kita mengalami sesuatu,
tapi sebenarnya tidak sungguh-sungguh mengalami. Dengan kata lain, kita hidup
dalam kedangkalan, banalitas. Kita bersahabat dengan orang lain di internet,
tapi itu adalah persahabatan virtual, karena kita sesungguhnya tidak pernah
sungguh-sungguh bersahabat dengan oryang yang kita sebut sahabat itu. Di
internet kita bisa merasa dekat dengan orang yang jauh secara spasial. Jauh dan
dekat kemudian menjadi sangat relatif. Teknologi digital telah membuat kita
tidak dapat lagi mengalami apa itu kedekatan. Mungkin bisa di katakan, relasi
kita di internet membuat kita dapat berada dalam kedekatan dan kejauhan dengan
semua hal. Itu karena internet mencerabut kita dari ruang fisik spasial; dunia
virtual adalah dunia tidak beruang secara spasial.
Prinsip kecepatan yang dijunjung tinggi dalam
teknologi digital membuat kita tidak pernah sungguh-sungguh dapat mengalami
sesuatu dengan mendalam. Segala sesuatu, ya iklan, gambar, tulisan atau berita
berlalu dengan cepat, digantikan oleh gambar atau berita yang lain. Dan oleh
karena itulah kita selalu merasa tidak pernah dipuaskan. Sebagai manusia, kita
hanya bisa merasa puas kalau kita memiliki kesempatan untuk mengalami sesuatu
dengan sungguh-sungguh. Iklan, berbagai bentuk hiburan, benda-benda konsumtif
yang diperjual-belikan dan informasi semua itu berlalu dengan kecepatan tinggi,
tidak memberi ruang dan waktu bagi kita untuk menghayatinya, mengalaminya, dan
itulah yang menyebabkan mengapa orang-orang dalam dunia digital seakanakan
dahaga dan resah untuk selalu mencari yang baru.
Secara kognitif, perkembangan teknologi digital juga
membuat kita semakin merosot. Penelitian memperlihatkan bahwa kemajuan
teknologi digital telah menyebabkan kemampuan kita untuk menggunakan pikiran
merosot jauh. Orang-orang zaman dulu, misalnya generasi orang tua kita, umumnya
mampu mengingat sampai 10 nomor telepon, tapi orang sekarang paling hanya mampu
mengingat dua atau tiga nomor telepon. Karena kemampuan mengingat merosot, maka
orang sekarang sedemikian tergantung. Kita bisa saja membela diri dengan
mengatakan bahwa teknologi memang telah membuat hidup kita sekarang menjadi
lebih mudah. Itu benar, namun masalahnya adalah bahwa perkembangan teknologi
telah membuat kita semakin tidak mandiri sebagai manusia. Kita semakin
tergantung pada teknologi itu berarti, kita tidak bebas dalam berhadapan dengan
teknologi.
Sebagaimana
telah dikemukakan di atas, kita akhirnya ditentukan oleh teknologi, bukan kita
lagi yang menentukannya. Gejala negatif lainnya yang diakibatkan teknologi
adalah kemampuan kita untuk konsentrasi pada sebuah tema tertentu merosot. Kita
menjadi manusia yang cepat bosan, tidak mampu lagi menekuni sesuatu dalam waktu
lama. Sebentar-sebentar kita merasa tergoda untuk menengok ke handphone kita
untuk melihat apakah ada sesuatu yang baru di sana, entah dalam WA atau SMS. Kemampuan
manusia sekarang untuk memahami persoalan atau kalimat yang agak panjang dan
kompleks juga merosot. Itu karena kita sudah terbiasa membaca kalimat-kalimat
sederhana dan pendek-pendek dalam perangkat digital
IV.
Penjungkir-balikan Nilai-nilai
Satu dampak negatif yang sangat nyata terlihat dalam
perkembangan komunikasi digital dewasa ini adalah terjadinya perubahan besar
dalam nilai. Nilai adalah sesuatu yang berharga, yang dijunjung tinggi oleh
sebuah komunitas. Nilai itu bersifat normatif karena ia menentukan bagaimana
kita bersikap dan bertindak. Nilai juga dapat berperan sebagai norma pengikat
masyarakat. Masyarakat juga dapat didefinisikan dari segi nilai. Apa yang
disebut dengan masyarakat sebenarnya adalah sekelompok manusia yang menganut
dan diikat oleh nilai (dasar) bersama. Keindonesiaan, misalnya, adalah sebuah
nilai karena keindonesiaan itu bersifat normatif sebab ia menentukan cara kita
bersikap dan bertindak, misalnya, bahwa sebagai orang Indonesia kita umumnya
bersikap ramah dan toleran (betapapun sekarang orang mungkin sinis terhadap
nilai keramahan dan toleransi tersebut.
Komunikasi dalam dunia digital telah mengakibatkan
jungkir-baliknya nilai-nilai seperti sopansantun, privasi, kekeluargaan,
persahabatan, pengetahuan, keahlian, hak asasi dan martabat manusia, dan
lain-lain. Kalau kita mengamati isi komentar atau postingan orang-orang di
media sosial, misalnya, kita dengan mudah melihat atau membaca di sana perilaku
atau pernyataan yang sungguh bertentangan dengan nilai-nilai yang secara sosial
dijunjung tinggi oleh masyarakat kita. Orang misalnya dengan mudah menuliskan
kata-kata kotor dan jorok dalam diskusi di media sosial. Orang tidak enggan
lagi mengucapkan kata-kata kasar bahkan bernada penghinaan kepada
mitrabicaranya. Anak-anak muda tanpa rasa malu memposting foto-foto vulgar
mereka di account sosial media mereka. Orang tidak malu atau sungkan lagi
mengumbar masalah pribadi atau masalah keluarga di sana. Begitu sering kita
membaca atau melihat gambar yang diskriminatif atau merendahkan orang lain.
Orang juga tidak malu, bahkan termasuk para politisi ternama, untuk tetap keras
kepala mempertahankan pendapat mereka yang tidak masuk akal dan bertentangan
dengan akal sehat.
Ujaran-ujaran
kebencian sangat marak di media sosial kita. Kita juga melihat perilaku yang
sangat mengutamakan kesuksesan material. Dalam diskusi, orang tidak lagi
menghargai pengetahuan dan keahlian. Setiap orang seakan-akan merasa tahu, dan
dengan bermodalkan sikap keras kepala dan percaya diri yang berlebihan, berani
membantah orang yang sudah jelas jelas ahli dalam bidang yang sedang
dibicarakan.Demokratisasi yang kebablasan dalam media-media sosial telah
mengakibatkan bahwa di sana tidak ada lagi yang disebut dengan keahlian.10
Fenomena hoax yang begitu mengkuatirkan di masyarakat kita barangkali dapat
dilihat sebagai puncak penjungkir-balikan nilai-nilai ini.
V.
Perlunya Etika Komunikasi Digital
Semua perkembangan baru yang mengkuatirkan ini telah
mendorong para ahli dan orang-orang yang memiliki komitmen untuk pengembangan
dunia digital yang sehat untuk merumuskan sebuah etika bagi komunikasi dunia
digital. Komunikasi pada dunia digital membutuhkan etika khusus, yang berbeda
dari komunikasi real karena komunikasi digital umumnya berlangsung dalam
anonimitas. Orang-orang yang berkomunikasi tidak saling berhadapan secara
empiris, bahkan juga tidak saling mengenal. Dan anonimitas selalu cenderung
mengakibatkan irresponsibilitas (ketiadaan tangung jawab atas tindakan).
Ini
sama dengan para pengendara di jalan raya yang tidak saling mengenal (anonim)
lalu bersikap saling serobot, tidak mau kalah, namun ketika dalam kondisi
saling serobot itu mereka membuka kaca kendaraan mereka dan ternyata saling
mengenal, mereka langsung saling sopan dan mempersilakan satu sama lain. Respek
terhadap etika menjadi sangat rendah di dunia digital justru karena anonimitas
itu. Dengan mudah kita dapat membayangkan: dalam komunikasi real empiris, orang
tidak akan berani mengatakan kepada mitra bicaranya apa yang dengan gagah
berani dikatakannya dalam komunikasi digital. Oleh karena itu, komunikasi
digital membutuhkan etika khusus, dan etika tersebut mesti dirumuskan dengan
bertolak dari konsepsi manusia yang bermartabat. Etika tersebut mesti dapat
berperan sebagai orientasi yang bersifat normatif dalam dunia yang telah
terdigitalisasi.
VI.
10 PERINTAH DALAM ETIKA KOMUNIKASI DIGITAL
1.
Jangan
mengekspos dirimu telalu banyak.
2.
Waspadalah dan
tolak bila engkau diawasi dan data-data dirimu disimpan
3.
Jangan
mempercayai segala sesuatu yang engkau lihat dan baca secara online dan
usahakan mencari sumber-sumber informasi alternatif.
4.
Jangan pernah
toleran terhadap perundungan (bullying) dan perilaku kebencian
5.
Hargailah
martabat orang lain dan ingat bahwa aturan juga berlaku dalam dunia digital.
6.
Jangan
mempercayai orang lain yang hanya berkomunikasi denganmu secara online
7.
Lindungi dirimu
dan diri orang lain dari hal-hal yang bersifat ekstrim
8.
Jangan menilai
dirimu dari jumlah likes dan postingan.
9.
Jangan mengukur
dirimu dan tubuhmu dari angka-angka dan statistik
10. Sesekali matikanlah perangkat digitalmu dan
keluarlah ke dunia nyata.
www.undhirabali.ac.id