TIME

Selasa, 26 Maret 2019

cp 6 undhira bali


MENJINAKKAN DUNIA DIGITAL, MEMANUSIAWIKAN MANUSIA
I.                   Internet sebagai conditio humana
komunikasi melalui internet bukan lagi sekunder bagi banyak orang, melainkan telah menjadi komunikasi primer. Semua perkembangan ini membuat internet telah menjadi -- dengan meminjam ungkapan filsuf Jerman, Martin Heidegger -- cara mengada manusia itu sendiri (mode of being). Sebagai manusia kita tidak lagi menggunakan internet, melainkan telah menginternet: kita ada dalam dan melalui internet; ia menjadi kondisi kemanusiaan (conditio humana) kita. Internet itu bukan lagi perangkat yang terpisah dari keberadaan kita, melainkan ia telah menjadi instrumen yang memungkinkan kita mengada sebagai manusia. Tanpa internet kita (merasa) tidak ada, tidak eksis, artinya, seakan-akan lumpuh, kurang manusiawi.
Fenomena dunia digital ini tentu saja memberikan banyak sumbangan positif bagi peradaban umat manusia. Karakter yang menonjol dari kehidupan yang serba digital ini adalah bahwa secara teknis hidup manusia menjadi semakin mudah. banyak kegiatan yang dapat kita lakukan atau kita selesaikan dengan sangat mudah karena kita cukup menggerakkan jari-jari tangan untuk menekan keypad perangkat elektronik kita. Namun, sebagaimana dalam berbagai bidang kehidupan lainnya, kemudahan tidak selalu bermakna positif dan tidak selalu menghasilkan sesuatu yang positif. Kemudahan teknologis hanya menjelaskan proses atau prosedur sederhana atau gampang dalam melakukan sesuatu. Apa yang dilakukan dan terutama apa dampak kemudahan itu, justru sering tidak positif. Dari refleksi filosofis atas fenomena dunia digital ini sudah seharusnya memang tidak hanya melihat dampak positif yang dihasilkannya, melainkan juga dampak negatif yang terkandung di dalamnya atau yang diimplikasikannya.

II.                Sejumlah Pertanyaan
Refleksi kritis atas fenomena intensifikasi penggunaan perangkat digital ini sangat penting karena dunia digital telah sedemikian jauh mempengaruhi bahkan menentukan kehidupan kita. Kalau kita memperhatikan bagaimana hubungan internet dan manusia dewasa ini, maka tidak berlebihan mengatakan bahwa bukan kita lagi yang menggunakan dan mengarahkan internet, melainkan internet yang mengarahkan dan menentukan kita. Kita seakanakan terserap olehnya. Kita menghabiskan waktu berjam-jam di dalamnya. Internet mengkonsumsi kita, dan bukan sebaliknya. Mengapa demikian? Karena kita menyesuaikan diri ke padanya, kepada framework-nya. Lihatlah perubahan gaya hidup yang terjadi berkat facebook, misalnya.
Bayangkanlah berapa banyak waktu yang dihabiskan oleh ratusan juta pemilik account facebook untuk chatting atau sekadar surfing di sana. Berapa banyak informasi, yang berguna maupun tidak berguna (hoax) bersileweran di sana, dan bagaimana semua itu mempengaruhi banyak orang. Banyak kejadian fenomenal di dunia terjadi karena dengan dukungan internet. Kita tergantung kepadanya. Kita bahkan bisa mengatakan bahwa internet telah menjadi subjek universal yang mempengaruhi umat manusia. Dalam dunia digital dewasa ini, internet itu bukan lagi sekadar sebuah konstelasi teknologis yang terbentuk dari jaringan antarkomputer, melainkan telah menjadi subjek maha raksasa yang mempengaruhi dan menentukan (gaya) hidup kita dengan cara yang sangat mendasar.
Sebagai Imago Dei (Citra Allah), yang diperlengkapi dengan akal budi, manusia seharusnya mampu mengarahkan dan menentukan perkembangan dunia digital; bukan dunia digital dengan logika perkembangannya yang non-manusiawi itu yang menentukan arah perkembangan umat manusia, melainkan sebaliknya. Hanya kalau manusia yang secara aktif menentukan arah dan dinamika perkembangan teknologis maka teknologi itu dapat membuat manusia lebih manusiawi.

III.             Internet dan dehumanisasi
Teknologi itu tidak pernah netral. Teknologi mengubah lingkungan dan cara hidup kita, dan dengan demikian mengubah kita juga. Di atas kita telah melihat sejumlah contoh perubahan yang terjadi karena internet. Artinya, secara langsung atau tidak langsung, teknologi mengubah kita. Itu membuktikan bahwa dia tidak netral. Martin Heidegger, filsuf Jerman yang merefleksikan hakikat teknik dengan sangat mendalam dan menyebutnya sebagai puncak metafisika, tampaknya benar ketika dia mengkritik mitos keliru mengenai kebebasan dan otonomi kita di hadapan teknologi modern.
Perkembangan teknologi dalam dunia digital sekarang sesungguhnya telah merampas atau mendangkalkan kemanusiaan kita. Namun, perlu segera ditekankan, ini bukan sebuah sikap antipati terhadap teknologi. Tidak setiap bentuk teknologi dengan sendirinya membuat kemanusiaan kita menjadi rendah. Banyak kemajuan teknologi yang justru positif dan mengembangkan kemanusiaan kita. Teknologi medis, pertanian atau transportasi, misalnya. Namun, perkembangan teknologi dalam dunia digital sekarang menimbulkan kekuatiran bagi banyak pihak karena dia justru dalam banyak hal telah membuat kita menjadi kurang manusiawi, atau kemanusiaan kita menjadi rendah. Teknologi yang seharusnya memanusiawikan itu justru kenyataannya merendahkan kemanusiaan. Dekadensi kemanusiaan ini ini terjadi baik pada level ontologis, kognitif, afektif dan motorik.
Digitalisasi adalah sekaligus denaturalisasi manusia, proses ketercerabutan kita dari alam. Kita semakin sedikit bersentuhan dengan alam empiris-fisik. Sebagai denaturalisasi, digitalisasi membuat kita semakin jarang dan sulit meng-alami sesuatu. Artinya, kita mengalami sesuatu, tapi sebenarnya tidak sungguh-sungguh mengalami. Dengan kata lain, kita hidup dalam kedangkalan, banalitas. Kita bersahabat dengan orang lain di internet, tapi itu adalah persahabatan virtual, karena kita sesungguhnya tidak pernah sungguh-sungguh bersahabat dengan oryang yang kita sebut sahabat itu. Di internet kita bisa merasa dekat dengan orang yang jauh secara spasial. Jauh dan dekat kemudian menjadi sangat relatif. Teknologi digital telah membuat kita tidak dapat lagi mengalami apa itu kedekatan. Mungkin bisa di katakan, relasi kita di internet membuat kita dapat berada dalam kedekatan dan kejauhan dengan semua hal. Itu karena internet mencerabut kita dari ruang fisik spasial; dunia virtual adalah dunia tidak beruang secara spasial.
Prinsip kecepatan yang dijunjung tinggi dalam teknologi digital membuat kita tidak pernah sungguh-sungguh dapat mengalami sesuatu dengan mendalam. Segala sesuatu, ya iklan, gambar, tulisan atau berita berlalu dengan cepat, digantikan oleh gambar atau berita yang lain. Dan oleh karena itulah kita selalu merasa tidak pernah dipuaskan. Sebagai manusia, kita hanya bisa merasa puas kalau kita memiliki kesempatan untuk mengalami sesuatu dengan sungguh-sungguh. Iklan, berbagai bentuk hiburan, benda-benda konsumtif yang diperjual-belikan dan informasi semua itu berlalu dengan kecepatan tinggi, tidak memberi ruang dan waktu bagi kita untuk menghayatinya, mengalaminya, dan itulah yang menyebabkan mengapa orang-orang dalam dunia digital seakanakan dahaga dan resah untuk selalu mencari yang baru.
Secara kognitif, perkembangan teknologi digital juga membuat kita semakin merosot. Penelitian memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi digital telah menyebabkan kemampuan kita untuk menggunakan pikiran merosot jauh. Orang-orang zaman dulu, misalnya generasi orang tua kita, umumnya mampu mengingat sampai 10 nomor telepon, tapi orang sekarang paling hanya mampu mengingat dua atau tiga nomor telepon. Karena kemampuan mengingat merosot, maka orang sekarang sedemikian tergantung. Kita bisa saja membela diri dengan mengatakan bahwa teknologi memang telah membuat hidup kita sekarang menjadi lebih mudah. Itu benar, namun masalahnya adalah bahwa perkembangan teknologi telah membuat kita semakin tidak mandiri sebagai manusia. Kita semakin tergantung pada teknologi itu berarti, kita tidak bebas dalam berhadapan dengan teknologi.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, kita akhirnya ditentukan oleh teknologi, bukan kita lagi yang menentukannya. Gejala negatif lainnya yang diakibatkan teknologi adalah kemampuan kita untuk konsentrasi pada sebuah tema tertentu merosot. Kita menjadi manusia yang cepat bosan, tidak mampu lagi menekuni sesuatu dalam waktu lama. Sebentar-sebentar kita merasa tergoda untuk menengok ke handphone kita untuk melihat apakah ada sesuatu yang baru di sana, entah dalam WA atau SMS. Kemampuan manusia sekarang untuk memahami persoalan atau kalimat yang agak panjang dan kompleks juga merosot. Itu karena kita sudah terbiasa membaca kalimat-kalimat sederhana dan pendek-pendek dalam perangkat digital

IV.             Penjungkir-balikan Nilai-nilai
Satu dampak negatif yang sangat nyata terlihat dalam perkembangan komunikasi digital dewasa ini adalah terjadinya perubahan besar dalam nilai. Nilai adalah sesuatu yang berharga, yang dijunjung tinggi oleh sebuah komunitas. Nilai itu bersifat normatif karena ia menentukan bagaimana kita bersikap dan bertindak. Nilai juga dapat berperan sebagai norma pengikat masyarakat. Masyarakat juga dapat didefinisikan dari segi nilai. Apa yang disebut dengan masyarakat sebenarnya adalah sekelompok manusia yang menganut dan diikat oleh nilai (dasar) bersama. Keindonesiaan, misalnya, adalah sebuah nilai karena keindonesiaan itu bersifat normatif sebab ia menentukan cara kita bersikap dan bertindak, misalnya, bahwa sebagai orang Indonesia kita umumnya bersikap ramah dan toleran (betapapun sekarang orang mungkin sinis terhadap nilai keramahan dan toleransi tersebut.
Komunikasi dalam dunia digital telah mengakibatkan jungkir-baliknya nilai-nilai seperti sopansantun, privasi, kekeluargaan, persahabatan, pengetahuan, keahlian, hak asasi dan martabat manusia, dan lain-lain. Kalau kita mengamati isi komentar atau postingan orang-orang di media sosial, misalnya, kita dengan mudah melihat atau membaca di sana perilaku atau pernyataan yang sungguh bertentangan dengan nilai-nilai yang secara sosial dijunjung tinggi oleh masyarakat kita. Orang misalnya dengan mudah menuliskan kata-kata kotor dan jorok dalam diskusi di media sosial. Orang tidak enggan lagi mengucapkan kata-kata kasar bahkan bernada penghinaan kepada mitrabicaranya. Anak-anak muda tanpa rasa malu memposting foto-foto vulgar mereka di account sosial media mereka. Orang tidak malu atau sungkan lagi mengumbar masalah pribadi atau masalah keluarga di sana. Begitu sering kita membaca atau melihat gambar yang diskriminatif atau merendahkan orang lain. Orang juga tidak malu, bahkan termasuk para politisi ternama, untuk tetap keras kepala mempertahankan pendapat mereka yang tidak masuk akal dan bertentangan dengan akal sehat.
Ujaran-ujaran kebencian sangat marak di media sosial kita. Kita juga melihat perilaku yang sangat mengutamakan kesuksesan material. Dalam diskusi, orang tidak lagi menghargai pengetahuan dan keahlian. Setiap orang seakan-akan merasa tahu, dan dengan bermodalkan sikap keras kepala dan percaya diri yang berlebihan, berani membantah orang yang sudah jelas jelas ahli dalam bidang yang sedang dibicarakan.Demokratisasi yang kebablasan dalam media-media sosial telah mengakibatkan bahwa di sana tidak ada lagi yang disebut dengan keahlian.10 Fenomena hoax yang begitu mengkuatirkan di masyarakat kita barangkali dapat dilihat sebagai puncak penjungkir-balikan nilai-nilai ini.

V.                Perlunya Etika Komunikasi Digital
Semua perkembangan baru yang mengkuatirkan ini telah mendorong para ahli dan orang-orang yang memiliki komitmen untuk pengembangan dunia digital yang sehat untuk merumuskan sebuah etika bagi komunikasi dunia digital. Komunikasi pada dunia digital membutuhkan etika khusus, yang berbeda dari komunikasi real karena komunikasi digital umumnya berlangsung dalam anonimitas. Orang-orang yang berkomunikasi tidak saling berhadapan secara empiris, bahkan juga tidak saling mengenal. Dan anonimitas selalu cenderung mengakibatkan irresponsibilitas (ketiadaan tangung jawab atas tindakan).
Ini sama dengan para pengendara di jalan raya yang tidak saling mengenal (anonim) lalu bersikap saling serobot, tidak mau kalah, namun ketika dalam kondisi saling serobot itu mereka membuka kaca kendaraan mereka dan ternyata saling mengenal, mereka langsung saling sopan dan mempersilakan satu sama lain. Respek terhadap etika menjadi sangat rendah di dunia digital justru karena anonimitas itu. Dengan mudah kita dapat membayangkan: dalam komunikasi real empiris, orang tidak akan berani mengatakan kepada mitra bicaranya apa yang dengan gagah berani dikatakannya dalam komunikasi digital. Oleh karena itu, komunikasi digital membutuhkan etika khusus, dan etika tersebut mesti dirumuskan dengan bertolak dari konsepsi manusia yang bermartabat. Etika tersebut mesti dapat berperan sebagai orientasi yang bersifat normatif dalam dunia yang telah terdigitalisasi.

VI.             10 PERINTAH DALAM ETIKA KOMUNIKASI DIGITAL
1.      Jangan mengekspos dirimu telalu banyak.
2.      Waspadalah dan tolak bila engkau diawasi dan data-data dirimu disimpan
3.      Jangan mempercayai segala sesuatu yang engkau lihat dan baca secara online dan usahakan mencari sumber-sumber informasi alternatif.
4.      Jangan pernah toleran terhadap perundungan (bullying) dan perilaku kebencian
5.      Hargailah martabat orang lain dan ingat bahwa aturan juga berlaku dalam dunia digital.
6.      Jangan mempercayai orang lain yang hanya berkomunikasi denganmu secara online
7.      Lindungi dirimu dan diri orang lain dari hal-hal yang bersifat ekstrim
8.      Jangan menilai dirimu dari jumlah likes dan postingan.
9.      Jangan mengukur dirimu dan tubuhmu dari angka-angka dan statistik
10.  Sesekali matikanlah perangkat digitalmu dan keluarlah ke dunia nyata.


www.undhirabali.ac.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar